Perjalanan Dinas Bersama Atasan Ku Yang Seksi Bag 1 | Global Dewasa | Sexy Angel
mas template

Perjalanan Dinas Bersama Atasan Ku Yang Seksi Bag 1

Related imageCerita Dewasa - Perjalanan Bisnis ke Surabaya sebenarnya sungguh menyenangkan, karena akan ketemu dgn sahabat lama yg sudah lama kutinggalkan, saygnya suamiku Hendra tak bisa menemaniku karena kesibukannya.

Dgn ditemani Andi, salah seorang kepercayaanku, kami terbang dgn flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam keadaan fresh dan tak loyo karena harus bangun pagi pagi buta, mengingat meeting besok aqu perkirakan akan berlangsung cukup alot karena menygkut negosiasi dan kontrak, disamping itu meeting dgn Pak Reza, calon clien, jadwalnya jam 10:00 pagi.

Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam badanku di bathtub dgn air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok.

Cukup lama aqu di kamar mandi hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yg lagi kesepian di rumah, pikirku.

Setelah puas merendam diri, kukeringkan badanku dgn handuk menuju ke kamar. Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk badanku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaqu kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di umurqu yg 32 tahun pasti orang akan mengira aqu masih berumur sekitar 27 tahun.

Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tak ada yg jawab, lalu kuhubungi kamar Andi yg nginap tepat di sebelah, idem ditto. Aqu teringat miss call di HP-ku, ternyata si Rio, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.

“hallo sayg, tadi telepon ya” sapaqu

“mbak Lily, ketemu yok, aqu udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aqu yg nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” suara dari ujung merajuk

“pesta apaan?”

“pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Rio, pasti beres, aqu jamin mbak” bujuknya

“emang berapa orang” tanyaqu penasaran

“rencanaqu sih aqu dgn dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Rio deh mbak”

“asik juga sih, sayg aqu lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aqu nanti”

“wah sayg juga sih mbak, aqu lagi kangen sekarang nih”

“simpan saja dulu ya sayg, ntar pasti aqu kabari sekembaliku nanti”

“baiklah mbak, jangan lupa ya”

“aqu nggak akan lupa kok sayg, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?” tanyaqu ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Rio.

“Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di suaranya

“gimana punya nggak, aqu perlu malam ini saja”

“ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?”

“kamu tahu kan seleraqu, jangan asal ngasih ntar aqu kecewa”

“garansi deh mbak”


Cerita Gadis -  Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aqu ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam. Cukup banyak tamu yg makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aqu bisa mengamati tamu yg masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aqu melihat Pak Reza sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.

“malam Bapak, apa kabar?” sapaqu sambil menyalami dia

“eh Mbak Lily, kapan datang, kenalin ini Pak Martin buyer kita yg akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Reza, aqu menyalami Pak Martin dgn hangat.

“silahkan duduk, gabung saja dgn kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Martin dgn ramah.

“terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aqu nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk bergabung dgn mereka.

Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aqu tahu kalau Pak Martin dan Pak Reza ternyata sahabat lama yg selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Reza lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Martin, seorang chinesse, mungkin umurnya tak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aqu pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yg aqu tak terlalu perhatikan.

“Bagaimana dgn besok, everything is oke?” Tanya Pak Reza

“Untuk Bapak aqu siapkan yg spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Martin, si cina ganteng itu.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yg sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaqu agak berat, tak pernah aqu minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yg di charge ke kamarku.

Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaqu terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Martin, Pak Reza sudah duluan pergi ketika Pak Martin memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aqu sendiri sudah diantara sadar dan tak, ketika Pak Martin mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.

Dgn hati hati Pak Martin merebahkan badanku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi badanku, aqu sudah tak ingat selanjutnya.

Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaqu sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataqu dgn berat dan ternyata Pak Martin sedang menindih badanku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, badanku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Martin yg hanya memakai celana dalam.

Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Martin yg masih bermain di kedua buah dadaqu. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah badanku tapi kurasakan kemaluanku sudah basah, aqu Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.

“sshh.. eehh.. eegghh” desahku membuat Pak Martin makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dgn penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku. Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata kemaluannya yg tegang tak sedasyat yg aqu baygkan, meski diameternya besar tapi tak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.

Dia kembali menindih badanku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaqu, putingku tak lepas dari jilatannya yg ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yg tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir kemaluanku sambil jari tangannya mulai mengocok kemaluanku.

“sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Martin. Pak Martin kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaqu sambil menyodorkan kemaluannya, biasanya aqu tak mau mengulum kemaluan pada kesempatan pertama, tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aqu terlalu terangsang, maka kuterima saja kemaluannya di mulutku. Kupermainkan ujung kepalanya dgn lidah lalu turun ke batang kemaluan, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan kemaluan itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aqu mengulum kemaluannya karena batang itu memang besar.

Dia mengocok mulutku dgn kemaluannya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aqu menghadapi kocokannya untung, tak berlangsung lama. Pak Martin kembali berada diantara kakiku, disapukannya kemaluannya ke bibir kemaluanku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah kemaluan itu ke kemaluanku semua, aqu merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam kemaluanku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang kemaluan Pak Martin.

“ehh.. sshh.. eeghghgh” aqu mulai mendesah ketika Pak Martin mulai mengocokkan kemaluannya, dgn cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yg tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada kemaluan yg tak disunat itu, gesekan pada dinding kemaluanku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas badanku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.


Cerita Tante -  Pak Martin menaikkan badannya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dgn posisi seperti ini aqu bisa melihat expresi wajahnya yg kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yg putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan. Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi badannya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoygkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di kemaluanku, kepala kemaluannya kurasakan membesar dan menekan dinding kemaluanku, denyutnya sampai terasa di bibir kemaluanku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.

Agak kecewa juga aqu dibuatnya karena aqu bahkan belum sempat merasakan sensasi yg lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.

“sorry aqu duluan” bisiknya di telingaqu sambil badannya ditengkurapkan di atas badanku.

“nggak apa kok, ntar lagi” kataqu menghibur diri sendiri, kudorong badannya dan dia rebah disampingku, dipeluknya badanku, dgn tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.

Aqu berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dgn keras untuk menutup kekesalan diriku.

“I need another kontol” pikirku kalut

Kulihat di HP ada SMS dari Rio dgn pesan “namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Rio”

Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aqu tadi tak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Martin, kulihat Pak Martin sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dgn postur badan yg cukup atletis dan wajah yg ganteng sungguh sayg dia tak bisa bertahan lama, pikirku.

Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yg masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yg tak tuntas, lalu kucuci kemaluanku dari sperma Martin, kalau tak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andi menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaqu dgnnya.

Kulaygkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tak ada Pak Martin mungkin sudah kuhubungi Rio untuk segera mengirim Rino kemari, tapi aqu jadi nggak enak sama dia.

Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok lelaki tegap dgn wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.

“mbak Lily? saya Rino temannya Rio” sapanya

Agak bingung juga aqu, disatu sisi aqu membutuhkannya apalagi dgn penampilan dia yg begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Martin di ranjang.

“Sebentar ya” kataqu menutup pintu kembali, terus terang aqu nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aqu nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yg aqu harapkan tapi bagaimana dgn Pak Martin, rekanan bisnis yg baru beberapa jam yg lalu aqu kenal, tentu aqu harus menjaga citraqu sebagai seorang bisnis perempuan professional, aqu bingung memikirkannya.

“kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Martin dari ranjang

“eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata

“jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dgn apa yg baru saja terjadi, panggil Martin atau Koh Martin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua”

“iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aqu suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataqu

“ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan.

Aqu kembali membuka pintu tapi aqu yg keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur badannya yg tinggi dan atletis, umur paling banter 26 tahun, makin membuat aqu kepanasan.

“di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yg terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aqu memintamu untuk pulang tanpa melaqukan apa apa kamu harus nurut, besok aqu telepon lagi, aqu mohon pengertianmu” kataqu pada Rino tegas.

“Nggak apa mbak, aqu ikuti saja permainan Mbak Lily, aqu percaya sama Rio dan aqu orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk.

Kulihat Martin masih berbaring di ranjang dgn bertutupkan selimut. Aqu jadi canggung diantara dua lelaki yg baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Martin bangkit dari ranjang dan dgn tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aqu kaget lalu melihat ke Rino yg hanya dibalas dgn senyuman nakal.

“wah ngganggu nih” celetuk Rino

“ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat

“baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily” teriak Martin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aqu nggak tau.

“Rio udah cerita sama aqu mengenai mbak” bisik Rino pelan supaya tak terdengar Martin.

Martin keluar dari kamar mandi dgn tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaqu hingga aqu telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Martin mulai menjamah buah dadaqu, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aqu mendongak kegelian, kemudian Martin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yg terbenam di kedua buah dadaqu.

Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.

Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan badannya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Martin di seluruh badanku, kupejamkan mataqu sambil menikmati cumbuan Martin.

Ketika jilatan Martin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaqu dari belakang, kubuka mataqu ternyata Martin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaqu membuat aqu menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yg dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan badanku di ranjang, Martin tetap berkutat di kemaluanku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai kemaluan Rino yg menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa kemaluannya lebih panjang, hampir dua kali punya Martin meski batangnya tak sebesar dia, tapi bentuknya yg lurus ke depan dan kepalanya yg besar membuat aqu semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari kemaluannya. Martin membalikkan badanku dan memintaqu pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi kemaluannya tepat menghadap ke mukaqu persisnya ke mulutku.

Untuk kedua kalinya Martin melesakkan kemaluannya ke kemaluanku dan langsung menyodok dgn keras hingga kemaluan Rino menyentuh pipiku. Kuremas kemaluan itu ketika Martin dgn gairahnya mengobok obok kemaluanku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yg diberikan Martin, kujilati Kemaluan Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Martin menghentakkan badannya ke pantatku, meski tak sampai menyentuh dinding terdalam kemaluanku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya.

Kukulum kemaluan Rino dgn gairah segairah kocokan Martin padaqu, Rino memegang kepalaqu dan menekan dalam dalam sehingga kemaluannya masuk lebih dalam ke mulutku meski tak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Martin meraba raba punggungku hingga ke dadaqu, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan kemaluannya dari mulutku.

“eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung karena mulutku tersumbat kemaluan Martin.

Tak lama kemudian Martin menghentikan kocokannya dan mengeluakan kemaluannya dari kemaluanku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Martin, dgn mudahnya dia melesakkan kemaluannya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari kemaluan Martin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam kemaluanku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika kemaluan Rino menyentuhnya.

Bersambung......
Episode
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4



PARTNER CERITA SEX

PARTNER CERITA SEX 2



PARTNER NONTON

PARTNER BOKEP & SEMI




Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.